
Kesadaran ekologis menjadi isu penting dalam era modern, terutama di tengah krisis lingkungan global yang semakin mengkhawatirkan. Dalam rangka memberikan pemahaman yang mendalam terkait tanggung jawab ekologis dalam perspektif Islam, STIQSI Lamongan menggelar Studium General bertema “Kesadaran Ekologis dalam Al-Qur’an: Telaah Tafsir Al-Sha’rāwī dan Prinsip Ekosentrisme dalam Islam”. Kegiatan ini menjadi momentum intelektual untuk menggali nilai-nilai keislaman yang mendukung kelestarian lingkungan hidup.
Kegiatan ini dimulai pukul 09.20 WIB dengan dipandu oleh mahasiswa STIQSI, Jaka Purnama, sebagai pembawa acara. Setelahnya, Drs. H. Agus Salim Syukran, M.Pd, selaku Ketua Badan Pengawas Harian STIQSI Lamongan, memberikan welcoming speech. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa Studium General ini bertujuan untuk menambah wawasan, memperkaya ilmu, serta memberi motivasi bagi seluruh civitas akademika STIQSI.
Acara secara resmi dibuka oleh Ketua STIQSI Lamongan, Dr. H. Piet Hizbullah Khaidir, S.Ag., MA, yang menegaskan pentingnya penguatan nilai-nilai ekologi dalam kajian keislaman kontemporer. Sesi inti dipandu oleh dosen STIQSI, Rahmat Yusuf Aditama, S.Ag., M.Ag. sebagai moderator.

Sebagai narasumber utama, Dr. Ali Mahfuz Munawar, Lc., M.Hum, Ketua Program Studi Magister IQT Unida Gontor, menyampaikan materi yang mendalam dan reflektif. Dalam pemaparannya, Dr. Ali Mahfuz menyampaikan bahwa Al-Qur’an tidak hanya berisi tuntunan ibadah, tetapi juga sarat dengan pesan-pesan ekologis yang relevan dengan kondisi saat ini. Ia menegaskan bahwa konsep khalifah dan amanah dalam Al-Qur’an menunjukkan peran manusia sebagai penjaga bumi. Melalui pendekatan tafsir sosial Syekh Mutawalli Al-Sha’rāwī, beliau mengajak audiens memahami bahwa kerusakan lingkungan merupakan dampak dari kelalaian manusia dalam menjaga keseimbangan. “Islam mengajarkan prinsip tawazun (keseimbangan), mīzān (keadilan), dan pentingnya menjauhi isrāf (berlebihan). Semua itu adalah nilai dasar dalam membangun kesadaran ekologis,” ujarnya.

Dalam sesi terakhir, Dr. Ali Mahfuz juga memberikan pesan kepada para peserta studium general agar tidak berhenti dan lelah untuk belajar hal-hal baru, beliau menegaskan, “Sungguh seseorang yang bodoh dan berilmu itu tidak sama, maka berlelah-lelahlah sekarang dengan ilmu agar kelak tidak menangis atas kebodohanmu”. Kegiatan berlangsung dengan lancar dan antusias. Peserta terlihat aktif dalam sesi diskusi dan tanya jawab, menunjukkan minat yang tinggi terhadap tema ekologi dalam perspektif Islam. Suasana yang hangat dan penuh semangat ilmiah mencerminkan keberhasilan acara ini sebagai sarana memperkuat wawasan keilmuan sekaligus menggugah kepedulian terhadap lingkungan hidup di kalangan mahasiswa dan generasi muda.
Reporter : Rizka Nigtadecha Daratista
Editor : Nur Islamiyah