
Lamongan – Pada Kamis sore (2/10/2025), BEM STIQSI Lamongan melalui Bidang Keilmuan dan Peradaban kembali menggelar kegiatan literasi keislaman bertajuk Bedah Buku. Tema yang diangkat cukup menggugah: “Mungkinkah Kita Memahami Al-Qur’an?”, sebuah kajian atas pemikiran al-Ḥārith al-Muḥāsibī dalam karya pentingnya Fahm al-Qur’ān wa Ma‘ānīhi. Acara yang berlangsung setelah salat Asar hingga menjelang Magrib di Gedung Sekretariat Lantai 2 ini diikuti puluhan mahasiswa dengan antusiasme tinggi.
Acara dibuka hangat oleh Nadin selaku MC, dilanjutkan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Riko yang menambah suasana khidmat. Nor Sabilah kemudian memandu jalannya kegiatan, sementara Azmi selaku ketua panitia menyampaikan sambutan pembuka. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya membangun budaya berpikir kritis dan literasi Islam di kalangan mahasiswa melalui pengkajian karya-karya ulama klasik.
Warisan Tafsir dan Tazkiyah al-Muḥāsibī
Memasuki acara inti, Ustaz Rahmat Yusuf Aditama, S.Ag., M.Ag. (akrab disapa Ust. Adit), menyampaikan materi dengan lugas dan mendalam. Ia memperkenalkan sosok al-Muḥāsibī sebagai ulama sufi yang tidak hanya ahli tafsir, tetapi juga menekankan pentingnya kebersihan hati, kontemplasi, dan kesungguhan jiwa dalam memahami Al-Qur’an. Menurutnya, pemahaman Al-Qur’an tidak cukup mengandalkan kemampuan bahasa semata, tetapi juga memerlukan ketulusan dan adab.
Ust. Adit juga menegaskan pesan tentang sanad keilmuan dan tradisi literasi para ulama terdahulu. Ia mengingatkan mahasiswa agar tidak tergesa-gesa dalam memahami Al-Qur’an, melainkan menghargai proses belajar yang berkelanjutan, dengan melibatkan hati dan jiwa dalam setiap upaya pengkajian.

Adab Ulama Klasik sebagai Teladan
Sesi tanya jawab menjadi bagian menarik dalam kegiatan ini. Salah satu pertanyaan mahasiswa terkait bagaimana ulama klasik mampu menghasilkan karya besar dan ilmu mendalam. Menjawab hal itu, Ust. Adit menekankan bahwa kunci keberhasilan mereka adalah kesungguhan, kesabaran, serta penghormatan terhadap waktu dan guru. Ilmu bagi mereka bukan sekadar alat duniawi, melainkan jalan hidup yang dijaga dengan amal dan adab.
Acara ditutup dengan dokumentasi dan foto bersama. Bedah buku ini tidak hanya memperluas wawasan intelektual mahasiswa, tetapi juga menginspirasi mereka untuk meneladani kesungguhan para ulama, memperkuat adab, dan terus menggali khazanah keilmuan Islam klasik dalam memahami Al-Qur’an secara mendalam.
Reporter: M. Rafsanjani
Editor: Ananda Maulana Tegar Renaldi