
Pada Selasa malam, 30 September 2025, Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an dan Sains Al-Ishlah (STIQSI) Lamongan kembali menyelenggarakan kegiatan rutin Qira’at al-Kutub. Kegiatan ini berlangsung dengan penuh kekhidmatan dan bertepatan dengan peringatan tragedi G30S/PKI, sebuah momen sejarah bangsa Indonesia yang menjadi refleksi kolektif. Meski demikian, suasana akademik dan religius tetap terjaga di lingkungan kampus.
Kegiatan dilaksanakan di bawah pendampingan Ustadz Fajar yang mengawal jalannya kajian. Setelah pembukaan, dilakukan undian untuk menentukan pembaca kitab tafsir. Pada kesempatan kali ini, Farisatul Meiliyah ditunjuk untuk membacakan Tafsir As-Sa’di, sementara Muhammad Fikri Abdullah membacakan Tafsir Al-Mizan.
Tafsir As-Sa’di: Klaim Orang Munafik
Farisatul Meiliyah memulai pembahasan dari Tafsir As-Sa’di halaman 29. Tafsir ini menyoroti sifat orang-orang munafik yang senantiasa mengklaim diri berada di jalan kebenaran, padahal hakikatnya klaim tersebut hanya fatamorgana. Sikap demikian dipandang sebagai bentuk kesombongan spiritual yang berbahaya.
Kajian ini memberikan pesan penting bahwa seorang mukmin sejati harus membuktikan keimanannya melalui amal nyata, bukan hanya melalui klaim dan label. Hal ini relevan dengan kondisi kehidupan sehari-hari, di mana keimanan perlu ditunjukkan dengan keteladanan dan konsistensi amal.

Tafsir Al-Mizan: Tingkatan dalam Beribadah
Selanjutnya, Muhammad Fikri Abdullah membacakan Tafsir Al-Mizan halaman 29. Dalam pembahasan ini, dijelaskan adanya tiga tingkatan manusia dalam beribadah. Pertama, mereka yang menghadirkan Allah sepenuhnya dalam ibadah, dengan niat tulus semata-mata karena-Nya. Kedua, mereka yang beribadah secara lahiriah saja tanpa penghayatan batin. Ketiga, mereka yang beribadah dengan tujuan lain di luar keridaan Allah.
Pesan utama dari kajian ini adalah pentingnya menjaga keikhlasan dalam beribadah. Ibadah yang dilakukan tanpa ruh dan niat yang benar hanya akan menjadi rutinitas kosong. Sebaliknya, kehadiran Allah dalam setiap ibadah akan memberikan nilai dan mendekatkan pelakunya kepada Sang Khalik.

Penutup: Ilmu dan Iman sebagai Benteng
Acara ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh Ustadz Fajar. Dalam penutupannya, beliau menegaskan bahwa tafsir Al-Qur’an tidak hanya penting dipahami secara teoretis, tetapi juga diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Pembahasan kali ini sekaligus menjadi peringatan akan bahaya kesombongan spiritual serta urgensi keikhlasan dalam menjalankan ibadah.
Kegiatan rutin Qira’at al-Kutub diharapkan dapat memperkuat tradisi ilmiah di STIQSI Lamongan. Selain melatih mahasiswa dalam membaca kitab gundul, kegiatan ini juga membekali mereka dengan pemahaman keislaman yang aplikatif. Semangat mahasiswa yang tetap terjaga meskipun bertepatan dengan peringatan sejarah bangsa, menunjukkan bahwa ilmu dan iman adalah benteng utama dalam menghadapi tantangan zaman.
Reporter: Nor Sabilah
Editor: Ananda Maulana Tegar Renaldi