SIDANG SKRIPSI PERDANA: MENEGANGKAN NAMUN MELEGAKAN

Bagi Mahasiswa tentu sudah tidak asing lagi dengan kata skripsi, karena merupakan karangan ilmiah yang wajib ditulis oleh mahasiswa sebagai bagian dari persyaratan akhir pendidikan akademisnya atau lebih tepatnya menjadi syarat untuk lulus dari jenjang sarjana atau S-1 (Strata 1)
Pada jum’at (27/8/2021) Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an dan Sains (STIQSI) mengadakan acara sidang skripsi terbuka di aula PP Al-Al-Ishlah, banyak para audien tegang ketika menyaksikan sidang tersebut. “Ini adalah momen yang paling menegangkan dan juga menakutkan, karena akan berhadapan dengan pertanyaan, bantaian, dan kritikan” ujar Izzah Zulfa (mahasiswi angkatan pertama)
Karena sidang skripsi merupakan penentuan nasib kelulusan, maka tidak heran para mahasiswa yang mengikuti sidang merasa tegang. Sidang dilakukan selama dua hari yakni pada hari jum’at hingga sabtu. Mahasiswa yang sidang pada hari itu diantaranya M. Zahid Robbani, Alma Oktavia, Luthfatul Ainiyah, dan M. Izzuddin Robbani.
M. Zahid Robbani mahasiswa kelahiran Riau, 8 April 1999, resmi menyandang gelar Sarjana Theologi Islam. Kelegaannya terlihat dari pernyataannya “skripsi seperti mencari pasangan, yah kita harus benar-benar jatuh cinta dan menganggap semua yang kita lakukan untuknya bernilai ibadah, jika pandangannya seperti itu, maka kita jadi bertanggungjawab untuk memberi waktu dan usaha yang terbaik melayaninya.”
Alma Oktavia mahasiswi kelahiran Lamongan 4 Mei 1999, merasa lega walaupun merasa kurang puas, terlihat dari pernyataannya “Jika kita tidak mulai mengusahakan untuk menyelesaikan tugas skripsi ini, maka kita akan terus terbengkalai dengan tugas pengabdian, saatnya kita perjuangkan walaupun hasilnya tidak sesuai yang kita harapkan, tetapi setidaknya kita pernah mencobanya, agar tidak menua dengan perasaan penasaran dan penyesalan, karena bisa jadi kita akan mendapatkan kesuksesan yang lebih, tidak ada manusia yang tepat mengetahui hasil akhir dari usahanya”.
Luthfatul Ainiyah mahasiswi kelahiran Lamongan 2 November 1998, merasa lega terlihat pernyataannya “Awalnya grogi, deg-degan, gemetar, over thingking, bahkan tidak mood makan, tapi setelah sidang lega tapi dengan catatan tidak boleh kendor, berleha-leha, tetap semangat untuk memperbaiki.”
Adapun M. Izzuddin Robbani mahasiswa kelahiran Lamongan 17 Desember 1999, menutup sidang perdana (28/8/2021) dengan suasana tenang akan tetapi menegangkan bagi audiens, karena menggunakan bahasa Inggris. Ketenangannya terlihat dari pernyataannya “Selama di dalam kepala ada dan bisa dipertanggungjawabkan yah tenang-tenang aja, intinya mengerjakan skripsi itu dengan kesadaran, dan di luar itu adalah do’a.” (AO)