
Lamongan – Kegiatan rutin Qira’at al-Kutub kembali digelar pada Selasa malam, 16 September 2025, menghadirkan kajian tafsir yang menekankan pentingnya mengingat Allah melalui berbagai perspektif keilmuan. Dengan penuh perhatian, para mahasiswa mengikuti pembacaan kitab tafsir al-Mīzān oleh Dwi Nana Nabila dan tafsir al-Sa‘di oleh Ahmad Galang. Kajian ini semakin bermakna dengan penjelasan Ustadz Fajar yang memperkuat pesan utama: setiap sudut pandang dalam melihat dunia harus mengantarkan manusia untuk senantiasa mengingat Sang Pencipta.
Tafsir al-Mīzān: Ketergantungan Makhluk kepada Sang Pemilik
Dalam penjelasan al-Mīzān, manusia pada hakikatnya tidak memiliki kuasa apa pun selain izin Allah. Setiap makhluk sepenuhnya bergantung pada-Nya sebagai pemilik sejati. Pandangan ini menegaskan bahwa manusia bukanlah pemilik mutlak dari apa yang dimilikinya, melainkan hanya sebagai penerima titipan yang suatu saat akan diminta pertanggungjawabannya.
Ustadz Fajar menambahkan, cara pandang manusia terhadap dunia sangat berpengaruh pada ingatannya kepada Allah. Bila dunia dipandang sebatas sarana materi, manusia akan mudah lalai. Sebaliknya, jika dunia disadari sebagai milik Allah, maka setiap langkah akan selalu dikaitkan dengan ibadah dan penghambaan kepada-Nya.

Tafsir al-Sa‘di: Melihat dari Sudut Pandang yang Lebih Dalam
Pembacaan dari Tafsir al-Sa‘di menegaskan pentingnya mengubah perspektif agar tidak terjebak pada hal-hal lahiriah semata. Menurut tafsir ini, banyak orang yang mengaku berbuat baik padahal sebenarnya justru menimbulkan kerusakan, karena cara pandang mereka terbatas pada kepentingan duniawi.
Dengan mengarahkan pandangan pada makna yang lebih dalam, manusia dapat melihat hakikat kehidupan sebagai ladang ibadah. Pandangan seperti ini akan menjaga hati untuk tetap mengingat Allah, sekaligus menjauhkan diri dari jebakan kelalaian yang sering ditimbulkan oleh kesibukan dunia.

Dinamika Kegiatan dan Aturan Baru
Kegiatan Qira’at al-Kutub malam itu berlangsung dengan khidmat dan penuh perhatian dari mahasiswa. Diskusi yang dipandu oleh Ustadz Fajar memberi nuansa akademik sekaligus spiritual, sehingga mahasiswa dapat merasakan manfaat ganda: memperluas pengetahuan sekaligus memperdalam keimanan.
Menariknya, pada kesempatan ini juga ditegaskan aturan baru bahwa kegiatan Qira’at al-Kutub tidak lagi membuka perizinan pengabdian. Hal ini dimaksudkan agar mahasiswa lebih leluasa mengikuti kajian tanpa terkendala administrasi, sehingga esensi kegiatan tetap terjaga sebagai ruang pembelajaran yang bebas dan murni.
Harapan Ke Depan
Sebagaimana biasanya, kegiatan ditutup dengan doa bersama dan pesan agar mahasiswa semakin konsisten dalam mengikuti Qira’at al-Kutub. Rutinitas ini diharapkan tidak berhenti pada aktivitas membaca, tetapi benar-benar menjadi media memperdalam pemahaman agama.
Dengan keterlibatan mahasiswa yang terus meningkat, Qira’at al-Kutub berpotensi menjadi tradisi akademik dan spiritual yang khas di STIQSI. Ke depan, kegiatan ini diharapkan mampu mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat dalam mengingat Allah di setiap aspek kehidupan.
Reporter: Nor Sabilah
Editor: Ananda Maulana Tegar Renaldi