Dalam rangka membangun budaya akademik dan memperkuat tradisi ilmiah berbasis tafsir dan kajian Qur’ani, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an dan Sains Al-Ishlah (STIQSI) Lamongan, melalui Departemen Keilmuan dan Peradaban, kembali menyelenggarakan program unggulan bertajuk Epistemic Community of STIQSI (ECOMMS). Forum ini menjadi ruang dialektika bagi mahasiswa untuk menyampaikan hasil riset dan refleksi ilmiahnya secara terbuka, argumentatif, dan kontekstual.
Kegiatan ECOMMS VII dilaksanakan pada hari Kamis, 31 Juli 2025, dimulai pukul 16.00 WIB dan berakhir sekitar pukul 17.00 WIB, bertempat di lantai 2 Gedung Al-Amanati, Pondok Pesantren Al-Ishlah. Acara ini dihadiri oleh mahasiswa dan mahasiswi aktif STIQSI, serta sejumlah dosen dan staf kampus yang hadir sebagai tamu undangan dan pengamat ilmiah.

Acara diawali oleh Master of Ceremony (MC), Ji’na Hidayati, yang membuka kegiatan dengan salam pembuka dan pemaparan teknis pelaksanaan seminar. Tanpa adanya sambutan resmi, forum langsung diarahkan pada sesi presentasi ilmiah sebagai inti dari kegiatan.
Dalam sesi ini, terdapat tiga presenter terpilih untuk memaparkan gagasan risetnya secara sistematis dan mendalam. Ketiganya merupakan mahasiswa yang telah lolos seleksi berdasarkan naskah ilmiah dan relevansi topik dengan isu-isu kontemporer keislaman. Berikut adalah daftar pemakalah dalam ECOMMS VII:
- Putri Fadiyah dengan judul makalah: “Kritik Al-Qur’an terhadap Fenomena Fatherless: Analisis Kisah-kisah Ayah Teladan dalam Al-Qur’an”.
Dalam paparannya, Putri menyoroti persoalan sosial fatherless—yaitu absennya figur ayah dalam kehidupan anak baik secara fisik maupun psikologis—sebagai fenomena yang berdampak besar terhadap pembangunan karakter generasi. Ia merujuk kisah ayah ideal seperti Nabi Ibrahim, Nabi Ya’qub, dan Lukman al-Hakim, yang tidak hanya bertindak sebagai kepala keluarga, tetapi juga sebagai pendidik spiritual dan penjaga nilai-nilai tauhid. Dengan demikian, Al-Qur’an secara tidak langsung mengkritisi pola keluarga modern yang mulai kehilangan figur paternal yang mendidik dan membimbing. - Asifah Betan, yang mempresentasikan tema: “Makna Lafadz Iqra’ dalam Al-Qur’an Perspektif Tafsir Al-Misbah serta Relevansinya terhadap Kinerja Dunia Pendidikan Kontemporer”.
Asifah mengkaji lafadz Iqra’ sebagai titik tolak epistemologi Islam berdasarkan analisis dari Tafsir Al-Misbah karya Quraish Shihab. Menurutnya, perintah membaca dalam ayat pertama yang diturunkan kepada Rasulullah ﷺ bukan hanya perintah literasi, tetapi seruan transformatif untuk membuka pintu peradaban melalui ilmu. Ia kemudian mengaitkan makna ini dengan krisis dunia pendidikan saat ini, di mana terjadi disorientasi nilai, komersialisasi lembaga pendidikan, serta pelemahan integritas akademik. - Yusfaan Hanif, dengan judul makalah: “Konsep Sakinah, Mawaddah, Warahmah dalam Q.S. Ar-Rum Ayat 21”.
Yusfaan membedah secara linguistik dan tafsir kata-kata kunci dalam ayat tersebut. Ia menegaskan bahwa tiga elemen utama—sakinah (ketenangan), mawaddah (kasih sayang), dan rahmah (rahmat)—adalah fondasi dari bangunan keluarga dalam Islam. Ia menyoroti bahwa degradasi nilai dalam rumah tangga modern seringkali berakar dari tidak hadirnya tiga elemen tersebut. Ia juga mengaitkannya dengan realitas meningkatnya angka perceraian dan ketimpangan peran gender dalam keluarga kontemporer.
Setiap presentasi berlangsung sekitar 10–15 menit, dilanjutkan dengan sesi diskusi dan tanya jawab dari peserta. Audiens menunjukkan antusiasme yang tinggi, dengan berbagai pertanyaan tajam dan tanggapan kritis yang disampaikan baik oleh mahasiswa maupun oleh para dosen tamu. Forum diskusi berjalan interaktif, memperlihatkan bahwa forum ini tidak hanya menjadi tempat penyampaian gagasan satu arah, melainkan juga medan tukar pikir yang hidup.

Selain sebagai ajang unjuk kemampuan berpikir kritis dan ilmiah, ECOMMS juga berfungsi sebagai sarana pelatihan soft skill seperti retorika, pengelolaan forum, serta peningkatan kepercayaan diri mahasiswa. Tidak hanya itu, kegiatan ini memperlihatkan bahwa mahasiswa STIQSI secara kolektif memiliki perhatian serius terhadap isu-isu keummatan dan kemanusiaan melalui perspektif Qur’ani yang mendalam.
Selama berlangsungnya kegiatan, panitia dari Departemen Keilmuan dan Peradaban BEM STIQSI memastikan bahwa acara berjalan dengan lancar dan tertib. MC mengarahkan jalannya kegiatan dengan baik hingga sesi akhir. Sebagai bentuk dokumentasi dan apresiasi, seluruh peserta, pemateri, dan panitia melaksanakan sesi foto bersama.
Menjelang pukul 17.00 WIB, acara resmi ditutup dengan doa penutup. Dalam penutupan informal, MC menyampaikan terima kasih kepada seluruh peserta, pemateri, serta semua pihak yang telah berkontribusi menyukseskan kegiatan ECOMMS VII. Kegiatan ini diharapkan dapat terus berlanjut secara rutin dan menjadi forum pengembangan kapasitas intelektual mahasiswa STIQSI di masa mendatang.
Reporter : M Rafsanjani
Editor : Emilia Rachmawati