
Departemen Keilmuan dan Peradaban BEM STIQSI Lamongan menggelar presentasi perdana program Fahm Al-Qur’an pada Senin, 11 Mei 2026. Kegiatan yang dilaksanakan di kelas semester 6 STIQSI tersebut berlangsung khidmat dan diikuti dengan antusias oleh para peserta yang merupakan perwakilan dari setiap angkatan.
Program Fahm Al-Qur’an berada di bawah naungan Departemen Keilmuan dan Peradaban dengan pendampingan langsung dari al-Ustadz Beryl Amal. Pada pertemuan perdana ini, presentasi dibuka oleh Ketua Departemen Keilmuan dan Peradaban, M. Rafsanjani, dengan membawakan materi berjudul “Eskatologi Puncak: Reorientasi Makna Liqa’ullah sebagai Kenikmatan Transendental dalam Narasi Sejarah Al-Qur’an.”
Tema tersebut mengangkat pembahasan mengenai hari akhir, konsep perjumpaan dengan Allah (liqa’ullah), serta bagaimana manusia memaknai tujuan akhir dari setiap amal ibadah yang dilakukan di dunia.
Kajian Liqa’ullah Bangun Diskusi Kritis Mahasiswa
Dalam pemaparannya, Rafsanjani menjelaskan bahwa pembahasan mengenai hari akhir tidak hanya berkaitan dengan surga, neraka, maupun balasan atas amal manusia. Menurutnya, terdapat dimensi spiritual yang lebih tinggi, yaitu bagaimana seorang hamba memaknai perjumpaan dengan Allah sebagai kenikmatan tertinggi yang melampaui kenikmatan material.
Perspektif tersebut mengajak peserta untuk melihat ibadah bukan sekadar rutinitas demi memperoleh pahala, tetapi juga sebagai jalan menuju kedekatan dengan Sang Pencipta.
Diskusi berlangsung aktif dan dinamis. Sejumlah peserta turut memberikan pandangan serta pertanyaan kritis untuk memperkaya pembahasan, di antaranya Muhammad Rifqi Al Hanif dan Nurin Alfiani. Interaksi yang terbangun menunjukkan antusiasme peserta dalam mendalami tema yang diangkat serta semangat memahami Al-Qur’an dari sudut pandang yang lebih luas dan mendalam.
Ustadz Beryl Amal Tekankan Pentingnya Rahmat Allah
Di penghujung kegiatan, al-Ustadz Beryl Amal memberikan penguatan sekaligus refleksi terkait pembahasan yang telah berlangsung. Beliau menyampaikan bahwa sebanyak apa pun ibadah yang dilakukan seseorang tidak serta-merta menjadi jaminan untuk masuk surga. Pada akhirnya, manusia dapat masuk surga hanya atas rahmat Allah SWT.
Karena itu, beliau menekankan pentingnya terus beramal, memperbaiki diri, serta senantiasa berhusnuzan kepada Allah SWT. Pesan tersebut menjadi penutup reflektif yang meninggalkan kesan mendalam bagi seluruh peserta kegiatan.
Sebagai presentasi perdana pada periode BEM Kabinet Bimasena, kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal dalam membangun tradisi akademik yang kritis, reflektif, dan berlandaskan nilai-nilai Al-Qur’an. Melalui program Fahm Al-Qur’an, Departemen Keilmuan dan Peradaban diharapkan mampu terus menghadirkan ruang diskusi yang produktif serta mendorong mahasiswa untuk semakin mendalami khazanah keilmuan Islam secara lebih luas.
Reporter: Nor Sabilah
Editor: Ananda Maulana Tegar Renaldi