Bangun Generasi Qur’ani, OSMABA STIQSI Hadirkan Materi Kiat Menghafal Al-Qur’an

Lamongan – Rangkaian Orientasi Studi Mahasiswa Baru (OSMABA) STIQSI Lamongan Tahun Akademik 2026/2027 sesi materi ditutup pada Kamis (9/7) dengan pembahasan bertajuk “Kiat-kiat Menghafal Al-Qur’an”. Bertempat di Gedung Sekretariat Lantai 1, materi ini disampaikan oleh Al-Ustadz Edi Purwanto yang mengajak mahasiswa baru memahami pentingnya membangun kebiasaan menghafal Al-Qur’an sebagai bagian dari perjalanan akademik sekaligus pembentukan karakter di STIQSI.

Mengawali penyampaiannya, beliau mengingatkan tentang keutamaan membaca Al-Qur’an sebagaimana dijelaskan dalam hadis Rasulullah saw. Menurut beliau, Al-Qur’an merupakan sumber keberkahan yang memberikan manfaat bagi setiap muslim yang senantiasa berinteraksi dengannya. Beliau juga menegaskan bahwa kemampuan membaca Al-Qur’an dengan baik akan menjadi pondasi penting sebelum seseorang menempuh proses menghafal secara bertahap hingga memiliki hafalan yang kuat.

Niat yang Lurus Menjadi Awal Keberhasilan Menghafal

Dalam materinya, Al-Ustadz Edi menjelaskan bahwa keberhasilan menghafal Al-Qur’an tidak hanya ditentukan oleh kemampuan mengingat, tetapi juga oleh niat yang tulus dan kesungguhan dalam menjaga konsistensi. Menghafal Al-Qur’an hendaknya diniatkan semata-mata untuk memperoleh ridha Allah Swt., bukan sekadar mengejar capaian akademik ataupun pengakuan dari orang lain.

Beliau juga memberikan motivasi bahwa seorang penghafal Al-Qur’an yang telah mencapai hafalan 30 juz dengan kualitas mutqin akan mampu melafalkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan mudah karena terbiasa melakukan murojaah secara istiqamah. Oleh sebab itu, niat yang benar harus selalu diiringi dengan semangat membaca, mengulang, dan menjaga hafalan setiap hari.

Lima Kiat Efektif dalam Menghafal Al-Qur’an

Selanjutnya, pemateri memaparkan lima kiat utama yang dapat diterapkan mahasiswa dalam proses menghafal Al-Qur’an. Pertama, memperkuat niat dan komitmen untuk terus istiqamah. Kedua, menggunakan satu mushaf yang sama secara konsisten agar lebih mudah mengingat letak ayat, halaman, maupun susunan mushaf. Ketiga, memilih waktu yang tenang dan kondisi fisik yang prima, seperti sebelum Subuh, setelah Subuh, atau pada sepertiga malam ketika suasana lebih kondusif untuk menghafal.

Keempat, mengenali metode belajar yang paling sesuai dengan karakter masing-masing, seperti mengulang ayat sedikit demi sedikit, membaca dengan suara yang jelas, serta memperhatikan tartil dan tajwid agar hafalan lebih mudah terekam. Kelima, membiasakan murojaah atau mengulang hafalan secara berkesinambungan, baik bersama guru maupun teman, sehingga kesalahan dapat segera diperbaiki dan hafalan semakin kuat.

Murojaah dan Istiqamah Kunci Menjaga Hafalan

Menutup sesi, Al-Ustadz Edi menegaskan bahwa menghafal Al-Qur’an merupakan proses yang membutuhkan niat, mental, dan usaha yang sungguh-sungguh. Hafalan yang baik tidak diperoleh secara instan, melainkan melalui latihan yang terus-menerus, pengulangan yang konsisten, serta kesabaran dalam menjalani setiap tahapannya.

Beliau juga mengingatkan bahwa apabila seseorang merasa kesulitan dalam menghafal Al-Qur’an, hendaknya melakukan evaluasi terhadap niat, kesiapan mental, maupun usaha yang telah dilakukan. Dengan menjaga keikhlasan, memperbanyak murojaah, dan terus beristiqamah, mahasiswa diharapkan mampu menjadi pribadi yang dekat dengan Al-Qur’an sekaligus menjadikannya sebagai pedoman dalam menuntut ilmu dan menjalani kehidupan.

Reporter: Assabi’atul Munawwiroh
Editor: Muhammad Rifqi Al Hanif