
Lamongan- Alumni pesantren kembali menorehkan kisah inspiratif dengan kiprah gemilang di dunia Internasional. Dari serambi pesantren yang sederhana, lahir generasi yang mampu menembus panggung dunia, baik sebagai akademisi, diplomat dan jurnalis di level global. Hal ini menunjukan bahwa Pendidikan pesantren tidak hanya mencetak pribadi dengan pondasi spiritual dan pondasi yang kuat, melainkan juga membekali para santri untuk mampu berkiprah ataupun berkontribusi di kancah Internasional.
Tiga alumni inspiratif , Uga Perceka (Dosen Bahasa Indonesia di Kyoto University, Tokyo), Mushtofa A. Latif (Duta Besar Indonesia pada Kesultanan Oman, th 2020), dan Hawe Setiawan (Wartawan sekaligus dosen Universitas Pasundan) yang dihadirkan di tengah Mahasiswa STIQSI dalam acara “Sharing Perjalanan Kuliah di Luar Negeri dan Perjalanan Kerja” (01/09/2025), menjadi bukti nyata alumni pesantren tidak hanya dapat berperan di lingkup lokal, tetapi juga mampu memberikan kontribusi di tingkat Internasional.
Landasan Kuat Keberhasilan Alumni
Pada sambutan pembuka, Al-Ustadz K.H Muhammad Dawam Saleh selaku pengasuh Ponpes Al-Ishlah, menegaskan bahwa keberhasilan para alumni dimanapun berada tidak dapat terlepas dari nilai-nilai pesantren, baik pendidikan spiritual atau moral yang sejak dini ditanamkan di pesantren. Tak lupa beliau juga selalu menyinggung perjalanan awal berdirinya pondok, hal ini mengingatkan bahwa identitas pesantren terletak pada kesederhanaan, kedalaman spiritual dan semangat kebersamaan yang menjadi modal besar bagi alumni untuk beradaptasi dan berprestasi di tengah dinamika Global.

Dalam praktiknya, Musthofa A. Latief selaku alumni Gontor, menegaskan bahwa nilai-nilai pesantren yang sederhana namun kokoh menjadi bekal penting untuk beradaptasi antarbangsa. Dari prinsip hidup yang ia pegang, serta kerja keras, kedisiplinan dan penguasaan wawasan mampu menoreh penghargaan Nobel yang hampir didapatkan setiap tahun di negara sakura ini. Disamping itu, nilai-nilai islam yang dipelajari juga banyak diaplikasikan pada kebudayaan Jepang.
Kiprah Alumni Pesantren di tingkat Internasional
Uga Perceka, dengan perjalanan panjangnya mulai dari masa studinya di luar negeri sampai dipercaya menjadi dosen bahasa Indonesia di Kyoto University, Tokyo, mengajarkan arti ketekunan, keberanian beradaptasi dengan budaya baru, serta pentingnya menjadikan ilmu bahasa sebagai pintu masuk dalam membangun jaringan akademik internasional. Baginya, kesempatan berkiprah di luar negeri bukan hanya soal pencapaian pribadi, melainkan sebagai bentuk pengabdian untuk mengenalkan Indonesia di kancah internasional.
Inspiratif lain, dari Hawe Setiawan sebagai lulusan S1 UGM, S2 di Inggris dan kini melanjutkan studi doctoral membawa perspektif berbeda dengan latar belakang jurnalisme dan akademik. Dari pengalamannya saat menjadi jurnalis,ia mampu menguasai Bahasa Sunda, membantu penerbitan karya sastra dan menariknya ia mengaku sangat dekat dengan naskah-naskah puisi KH. Dawam Shaleh. Bahkan dengan segala rendah hati, ia adalah sosok yang memberi usul judul Jalan ke Pesantren pada naskah karya KH. Dawam. Baginya, pesantren bukan hanya tempat belajar, tetapi juga sumber inspirasi intelektual dan kultural yang terus hidup dalam dirinya.
Dari ajang berbagi inspirasi tersebut, mempertegas bahwa alumni pesantren mampu menjembatani nilai-nilai tradisi dengan tantangan dunia modern. Dari Jepang, Inggris, hingga Oman, ketiganya memberikan teladan bahwa akar pesantren bisa tumbuh menjulang hingga ke kancah internasional tanpa kehilangan identitas dan nilai dasarnya.
Reporter: Ananda Maulana Tegar Renaldi
Editor: Luthfiya Nurmayanti