Suasana Baru dalam Qira’at al-Kutub: Kajian Tafsir يخادعون الله dan Kesempurnaan Allah

Pada Selasa malam, 19 Agustus 2025, kegiatan rutin Qira’at al-Kutub kembali diselenggarakan. Malam itu cukup istimewa karena selain sambutan dari Pak Piet, hadir pula seorang ustadz baru bernama Ustadz Rahmat Yusuf Aditama atau yang akrab dipanggil Ustadz Adit. Beliau akan turut mendampingi Ustadz Fajar dalam agenda Qira’at al-Kutub selanjutnya. Ustadz Fajar sendiri juga hadir dan tetap mengampu jalannya kegiatan seperti biasanya.

Adapun kitab yang dibaca dan dikaji adalah Tafsir As-Sa’di dan Al-Mizan. Dari Tafsir As-Sa’di yang dibacakan oleh Rahmi Fauziyah, dibahas mengenai makna kata يخادعون الله. Secara bahasa, artinya adalah menipu Allah. Namun, terdapat penafsiran lain yang menyatakan bahwa maksud dari ayat ini adalah menipu Rasul dan para sahabat. Hal ini karena menipu Rasul dan para sahabat sama dengan menipu Allah.

Sementara itu, dari tafsir Al-Mizan yang dibacakan oleh Shokib As’ari, dipaparkan bahwa Allah layak dipuji karena sifat-Nya yang sempurna (كمال). Kesempurnaan Allah adalah karena Allah موجب الوجود (wajib wujud), berbeda dengan manusia yang penuh kekurangan karena ia ممكن الوجود (mungkin wujud). Dengan demikian, perbedaan eksistensi ini menegaskan bahwa pujian hanya pantas ditujukan kepada Allah semata.

Suasana pembacaan kitab malam itu tetap penuh kekhusyukan. Para peserta mendengarkan dengan seksama meski tampak tegang ketika diminta membaca dan menjelaskan isi kitab. Namun, hal tersebut justru menambah semangat untuk terus belajar dan memperdalam pemahaman tafsir yang dikaji bersama.

Repoerter: Nor Sabilah

Editor: Ananda Maulana Tegar Renaldi