Artikel

Seharusnya Muslim Dalam Bermedia Sosial!

Tulisan ini terinspirasi dari buku Muslim Milenial dalam buku tersebut salah seorang penulis mengungkapkan bahwa dirinya sudah berjanji tidak akan memposting, baik gambar
maupun tulisan yang bersifat negatif dalam media sosialnya. Karena menurutnya postingan tersebut akan memberikan pengaruh kepada pembacanya.menurutnya energi negatif yang ada pada postingan seseorang di media sosial akan membawa feeling negatif pula bagi pembacanya.

Setelah membaca pernyataan tersebut, penulis sontak berpikir. Sebenarnya bagaimana sih cara menggunakan media sosial secara bijak itu? Apakah tidak boleh update story yang penuh dengan kegalauan? Dan pertanyaan-pertanyaan tersebut diikuti oleh serentetan pertanyaan lainnya hingga muncullah pertanyaan. Bagaimana adab muslim dalam bermedia sosial?

Di era 5.0 ini teknologi informasi dan komunikasi mengalami perkembangan yang sangat signifikan. Perkembangan teknologi ini telah memicu lahirnya beragam pola komunikasi. Di zaman yang serba canggih ini masyarakat bisa berkomunikasi dengan siapa saja dan dengan jarak yang tak terbatas. Mereka yang berada di benua Afrika bisa dengan mudah mendapatkan ataupun menyebarkan informasi ke kita yang berada di benua Asia dan sebaliknya. Kemudahan-kemudahan dalam bertukar informasi ini tidak bisa lepas dari perkembangan media sosial.

Media sosial telah memudahkan kita untuk berinteraksi dengan banyak orang, memperluas pergaulan, lebih mudah dalam mengekspresikan diri, penyebaran informasi dapat berlangsung secara cepat, serta biaya juga lebih murah. Sebelum kita membahas lebih dalam mengenai sikap atau etika bermedia sosial, perlu kita ketahui, apa itu media sosial? Media sosial terdiri dari dua kata yaitu, ‘media” yang berarti alat atau sarana, dan ‘sosial’ yang berarti sesuatu yang berkaitan dengan masyarakat.

Media sosial mengajak dan memberikan ruang seluas-luasnya bagi siapa saja yang tertarik untuk berkontribusi dan memberikan umpan balik secara terbuka, memberikan komentar dan saling berbagi informasi. Dengan kemudahan-kemudahan tersebut, tentunya kita sebagai muslim dituntut untuk lebih bijak dalam menggunakan media sosial. Selain menimbulkan dampat positif, media sosial juga bisa menimbulkan dampak negatif. Seperti: sarana ujaran kebencian, penyebaran hoax, fitnah, ghibah, adu domba dan yang lainnya.

Maka sebagai seorang muslim hendaknya kita lebih sadar bahwa media sosial bisa
dijadikan sarana untuk kegiatan-kegiatan positif. Seorang muslim dituntut untuk lebih bijak
dalam bermedia sosial. Lantas bagaimanakah adab bermedia sosial menurut Islam?
Berikut ialah beberapa adab bermedia sosial menurut Islam.

Menyampaikan Informasi Dengan Benar

Sebagaimana yang telah Allah firmankan dalam surah al-Ahzab: 20 yang berbunyi: Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah
perkataan yang benar

Dari ayat tersebut Allah mengisyaratkan kepada kita agar senantiasa mengucapkan kata-kata yang benar. Menurut Thahir ibn Asyur menggarisbawahi kata qaul memiliki arti yang
cukup luas yang berkaitan dengan kebajikan atau keburukan. Perkataan yang baik dan tepat, baik yang terucap dari lidah dan didengar maupun ucapan yang tertulis dan dibaca sehingga akan terucap dari masing-masing individu yang membaca akan memberikan pengaruh bagi jiwa dan pikiran pembaca. Jika ucapan itu baik, maka baik pula pengaruhnya, dan apabila ucapan itu buruk maka buruk pula pengaruhnya. Dalam konteks bermedia sosial ayat ini menghimbau kita sebagai Muslim untuk berbagi informasi yang benar dan menghindari adanya hoax. Informasi yang tersebar di media sosial sedikit banyak akan mendeskripsikan kejernihan akhlak penulis. Mereka yang memiliki pandangan dan komitmen bahwa media sosial merupakan sarana menebar manfaat disertai dengan wawasan yang luas, mereka tidak akan tergesa-gesa dalam membagikan suatu informasi.

Tabayyun (Melakukan Kroscek)

Apabila informasi-informasi yang dibagikan hanya untuk mencari popularitas dan like dari pembaca tanpa mengindahkan kebenaran. Ini adalah awal dari kesalahpahaman, lahirlah
fitnah dimana-mana. Maka sebagai Muslim sebelum kita membagikan suatu informasi sudah sepatutnya untuk mengecek terlebih dahulu akan status dari informasi tersebut. Apakah
informasi tersebut suatu kebenaran ataukah sebaliknya. Anjuran Allah bagi hambanya agar senantiasa ber-tabayyun telah Allah firmankan dalam surah al-Hujurat: 6.’Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu. “

Memastikan akan kebenaran suatu informasi merupakan tanggungjawab bersama, baik si pemberi informasi maupun si penerima informasi.

Mengingat Hisab

Sebagai seorang Muslim tentunya kita sudah paham bahwa segala amal perbuatan kita akan dicatat dan dihisab dihari kemudian. Menumbuhkan sikap kesadaran penuh akan adanya hisab atas setiap detail amal perbuatan yang kita lakukan merupakan alat kendali utama dalam setiap perbuatan. Ketika kemudahan media sosial hanya digunakan untuk hal-hal yang kurang bermanfaat maka, sia-sialah waktu dan tenaganya. Sebagaimana firman Allah dalam surat alZalzalah: 7-8
Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya

Tidak Mengumbar Riya

Dengan kemudahan dalam berbagi informasi, kerap kali media sosial merupakan salah satu sarana bagi sebagian masyarakat untuk pamer. Baik itu pamer kegiatan, pamer kekayaan,
maupun pamer ketampanan. Meski riya adalah perbuatan hati yang sulit untuk diketahui dan manusia tidak berhak menilainya, tapi tetaplah kita sebagai Muslim untuk senantiasa menjaga misi dalam segala hal ialah untuk meraih kelimpahan rahmat dan pahala-Nya. Sehingga tidak lain postingan-postingan di media sosial hanya ditujukan sebagai sarana berbagi nilai kepositifan bagi sesama. Dalil terhadap celakanya riya telah Allah firmankan dalam surah alBaqarah: 264 “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.

(Aida Ayu Lestari, Mahasiswa Semester 7)

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp
4.6/5

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Terbaru