Artikel

Altruisme: Sebuah Ibadah Sosial Tertinggi

Oleh Labib Hafizzada, S.Ag.
Alumni STIQSI 2023, Wakil Ketua BEM STIQSI Bidang Keilmuan dan Peradaban Periode 2020-2022. Saat ini bekerja sebagai Guru di SD Muhammadiyah 2 Palang-Tuban.

Kehadiran Islam telah membawa diferensiasi yang cukup besar dalam peradaban manusia. Dengan visi sebagai rahmatan lil ‘allamin, Islam telah berfungsi sebagai sebuah lentera, yang menerangi berbagai hal, baik dari pola pikir, perkataan, perilaku, ataupun hubungan dengan mahluk sekitar. Islam tidak hanya memuat hubungan yang bersifat vertikal tetapi juga menyentuh hubungan horizontal yang dapat berimplikasi kepada gerakan-gerakan sosial, yang dapat dikategorikan sebagai ibadah sosial.

Secara umum, ibadah sosial dapat diidentifikasi dalam sikap peduli antar sesama manusia atau mahluk hidup lainnya. Islam memberikan perhatian yang besar terkait pelayanan sebagai salah satu bentuk sikap kepedulian sosial. Hal ini dapat dipahami dari al-Qur’an Surah al-Hasyr ayat 9 yang mengisahkan loyalitas Kaum Anshar yang memberikan segala hal yang dibutuhkan oleh Kaum Muhajirin. Selain itu, konsep paradigmatis yang tertanam dalam sanubari kaum mukminin seperti khairu al-nas anfauhum li al-nas, juga telah membawa Islam sangat melek terkait ihwal pelayanan dan kepedulian sosial.

Atas dasar pokok pikir itulah, dapat dikatakan bahwa Islam memiliki nilai-nilai altruisme yang melekat pada dirinya, yaitu sikap kuat dalam pelayanan dan kepedulian sosial dengan berorientasi pada kepentingan sosial daripada individual. Oleh karena itu, hemat penulis, sikap altruisme dapat dikategorikan sebagai ibadah sosial tertinggi.

Definisi Altruisme
Secara makna altruisme adalah paham atau sifat yang menitik-beratkan pada kesejahteraan orang lain tanpa memperhatikan diri sendiri. Altruisme mengandung beberapa kata kunci yaitu sukarela dalam menolong, demi kepentingan orang lain dan tidak mengharap balasan. Tindakan altruisme merupakan tindakan yang didasarkan pada pilihan sendiri dan didasarkan pada prinsip-prinsip moral kebersamaan. Sejalan dengan itu, altruisme berbeda dengan perilaku tolong-menolong.
Secara historis, kata altruisme dipakai pertama kali oleh seorang pemikir August Comte. Menurutnya, altruisme diambil dari kata alter yang dalam bahasa Perancis berarti yang lain. Perilaku tolong-menolong bisa jadi tidak dikatakan sebagai altruism jika ada maksud untuk mengambil manfaat dari orang yang ditolong. Dalam istilah Comte disebut sebagai menolong yang egois.

Altruisme dan Islam
Berkaitan dengan altruisme, Islam dengan nilai-nilainya mengandung isyarat-isyarat yang sepaham dengan nilai-nilai altruisme. Bahkan melampauinya. Dalam al-Qur’an Surah al-Hasyr ayat 9 terdapat isyarat mengenai altruisme itu, yaitu:
وَٱلَّذِينَ تَبَوَّءُو ٱلدَّارَ وَٱلۡإِيمَٰنَ مِن قَبۡلِهِمۡ يُحِبُّونَ مَنۡ هَاجَرَ إِلَيۡهِمۡ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمۡ حَاجَةٗ مِّمَّآ أُوتُواْ وَيُؤۡثِرُونَ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ وَلَوۡ كَانَ بِهِمۡ خَصَاصَةٞۚ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفۡسِهِۦ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ

“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung”. (Al-Hasyr: 9).

Dalam ayat tersebut terdapat isyarat loyalitas dalam menolong yang dilakukan oleh kaum Anshor dengan sukarela, tanpa pamrih, dan tanpa keinginan untuk mendapatkan manfaat apapun dari Kaum Muhajirin yang mereka tolong.

Pada intinya, nilai-nilai yang dihadirkan oleh Islam adalah altruisme, karena Islam adalah agama yang wasath yaitu pertengahan, antara dunia dan akhirat. Maka, hubungan dengan Allah pasti juga melahirkan hubungan dengan manusia ataupun mahluk lainnya. Prinsip Khairu al–nas anfauhum li al-nas juga menjadi bukti bahwa Islam mempunyai orientasi sosial dengan porsi yang besar.

Altruisme Penghambaan Sosial Tertinggi
Altruisme bisa dikatakan sebagai sebuah penghambaan sosial tertinggi dikarenakan dua hal yakni: Pertama, altruisme akan melahirkan sebuah keberlanjutan dan kekonsistenan dalam menolong seseorang. Kedua, sikap ini hanya bisa dilakukan oleh orang-orang pilihan yang benar- benar kuat dari segi jasmani dan mental serta ikhlas dalam aspek jiwa raga.

Seiring dengan realitas sosial yang terjadi saat ini berupa disparitas sosial, oligarki ekonomi, dan apatisme, altruisme dapat dianggap sebagai jalan terang atau langkah yang solutif. Sebab, masalah utama dari kehidupan sosial saat ini adalah kegersangan dalam hubungan sosial, yakni rendahnya rasa persaudaraan serta tingginya sifat selfish/egois, alias mementingkan diri sendiri. Maka, tidak heran, masalah seperti kriminalitas, kemiskinan, ketidakharrmonisan bahkan kesenjangan sosial dapat terjadi dengan mudahnya. Oleh karena itu, altruisme dengan landasan prinsipil kepedulian dan keihklasan yang tinggi akan mampu menjadi solusi atas masalah-masalah sosial tersebut.

Dapat disimpulkan bahwa pertama, altruisme merupakan penghambaan sosial tertinggi karena dampak solutif yang cukup besar yang lahir dari altruisme dalam menghadapi masalah-masalah sosial yang pelik.

Kedua, berfokus pada kemaslahatan sosial yang diharapkan dari altruisme adalah dapat dilakukan secara istiqamah.

Ketiga, prinsip nilai altruisme hanya bisa dilakukan oleh orang pilihan yang benar-benar ikhlas dalam melakukannya. Altruisme adalah jalan keikhlasan dalam penghambaan sosial tertinggi.


Editor : Azka Ziadah A.
Proofreader : phzdr

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp
4.6/5

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Terbaru