
Lamongan-Hari pertama pergelaran puncak acara Qur’anicons 2025 berlangsung sangat meriah (25/09/2025). Pembeda dari acara sebelumnya, acara bergengsi ini turut dimeriahkan berbagai peserta dari bermacam-macam daerah, baik hadir secara online maupun offline. Seperti halnya peserta dari Jakarta, Cirebon, Jawa Tengah, Sidoarjo, dan lain-lain rela menempuh perjalanan yang jauh demi dapat menghadiri acara secara langsung. Kehadiran mereka menunjukan antusiasme tinggi terhadap visi besar konferensi ini yang meneguhkan al-Qur’an sebagai poros integrasi Ilmu.
Peneguhan al-Qur’an tersebut, membawa misi untuk kesadaran bersama bahwa al-Qur’an tidak hanya dapat dipahami sebagai kitab pedoman, tapi lebih dari itu yang mampu menjadi tool analize, objek dan lain sebagainya. Dari sini dapat menciptakan integrasi keilmuan yang tidak hanya berfungsi secara teoritis ataupun hanya mampu menghasilkan produk-produk tafsir, tetapi dapat berfungsi secara praktis yang mampu menjawab tantangan zaman,juga teraktualisasikan dalam berbagai macam aspek kehidupan.
Tiga Makna Filosofis Dibalik Nama Qur’anicons
Ketua STIQSI, al-Ustadz Dr. Piet Hizbullah Khaidir, S.Ag. M.A menjelaskan panjang lebar dalam sambutan acara puncak bahwa istilah Qur’anicons sendiri memiliki tiga makna filosofis yang terkandung, di antaranya: Pertama, menempatkan al-Qur’an di garis terdepan. Kedua, menandakan bahwa keseluruhan rangkaian acara dibingkai dalam al-Qur’an dan Sains yang hadir setelahnya (sebagai bidang yang diajak berdialog dengan al-Qur’an), terakhir al-Qur’an berfungsi sebagai poros dan titik acuan.
Dibalik makna filofis yang terkandung, berimplikasi mampu mencerminkan gagasan bahwa ilmu-ilmu (alam, sosial atau humaniora) harus didekati, dikaji, dan dikritisi melalui lensa al-Qur’an. Lebih dari itu, mampu mengindikasikan integrasi hermeneutis, dimana ilmu-ilmu dikontekstualisasikan dalam cahaya wahyu Ilahi. Dari sini, momentum ini menjadi sebagai bagian dari misi STIQSI yang berusaha untuk mengintegrasikan kajian Qur’ani dengan penelitian ilmiah kontemporer.
Angkat Semua Pemateri sebagai Keynote Speakers, Wujud Integrasi Ilmu
Hal pertama yang diwujudkan dari makna Qur’anicons sendiri, yakni dengan memberikan penghormatan kepada seluruh seluruh pemateri undangan yang turut memeriahkan pergelaran acara puncak ini. Dua pemateri yang hadir pada hari pertama ini, Dr Azhar Ibrahim dari NUS Singapore dan Prof. Dr. H. Moh. Asror Yuusf, M.Ag juga turut memberikan banyak wawasan seputar integrasi keilmuan dalam al-Qur’an.
Wujud penghormatan demikian, dengan maksud untuk mencerminkan etos intelektual dan komitmen inklusivitas. disamping itu untuk menegaskan bahwa setiap pandangan memberi kontribusi penting bagi wacana besar integrasi al-Qur’an dan Ilmu Pengetahuan, juga membangun budaya akademik yang penuh hormat, inklusif dan rendah hati di hadapan keluasan ilmu.

Antusiasme Peserta dan Harapan ke Depan
Kemeriahan Qur’anicons 2025 tidak hanya tampak dari jalannya acara, tetapi juga dari respons positif para peserta. Taufikin, perwakilan dari UIN Sunan Kudus, menyampaikan apresiasi mendalam terhadap penyelenggaraan konferensi ini. Menurutnya, istilah Qur’anicons adalah akronim yang sangat tepat dan sarat makna. “The best akronim Qur’anicons. I hope this will be the new contextual paradigm in this digital era,” ujarnya, menegaskan harapan agar forum ini dapat menjadi paradigma baru dalam memaknai al-Qur’an di era digital.
Kesan tersebut memperlihatkan bahwa Qur’anicons bukan hanya sekadar forum ilmiah, melainkan juga ruang inspiratif yang mampu melahirkan optimisme baru bagi generasi akademisi Muslim. Harapannya, momentum ini akan terus berlanjut di tahun-tahun mendatang sebagai wadah integrasi keilmuan yang semakin luas, sekaligus memperkuat kontribusi al-Qur’an dalam menjawab tantangan global.
Reporter: Lutfiya Nurmayanti
Editor: Ananda Maulana Tegar Renaldi