
Lamongan – Kegiatan Fahmil Qur’an kembali digelar sebagai salah satu agenda unggulan mahasiswa STIQSI dalam memperkuat tradisi kajian tafsir sekaligus membentuk karakter Qur’ani. Ajang rutin ini tidak hanya menjadi wadah pembelajaran intelektual, tetapi juga forum untuk menanamkan nilai-nilai adab sebagaimana yang digariskan dalam Al-Qur’an. Dengan demikian, Fahmil Qur’an berfungsi ganda: memperdalam wawasan keilmuan sekaligus menumbuhkan kepribadian mahasiswa yang berlandaskan etika Qur’ani.
Pada edisi Senin, 29 September 2025, kegiatan berlangsung mulai pukul 20.00 hingga 21.00 WIB di ruang kelas angkatan 7. Acara diikuti dengan antusias oleh mahasiswa yang haus akan pengetahuan tafsir dan nilai-nilai moral. Suasana penuh semangat ini mencerminkan komitmen civitas akademika STIQSI dalam merawat tradisi ilmiah yang berakar pada kitab suci Al-Qur’an.
Pemaparan Revansyah Rafi tentang Adab dalam Tafsir Ibnu Katsir
Revansyah Rafi, sebagai pemateri utama, membawakan materi berjudul “Pentingnya Beradab kepada Orang Lain dalam Tafsir Ibnu Katsir: Pendekatan Al-Qur’an”. Ia menjelaskan bahwa ayat-ayat Al-Qur’an, terutama yang berkaitan dengan etika sosial dan relasi antarindividu, dipahami oleh Ibnu Katsir sebagai dasar penting untuk membangun budaya saling menghormati dalam masyarakat Muslim.
Pemaparan Revansyah tidak berhenti pada penjelasan tekstual tafsir klasik, melainkan juga mengaitkan tafsir Ibnu Katsir dengan konteks sosial kontemporer. Dengan pendekatan tersebut, peserta diajak untuk melihat relevansi nilai adab dalam menghadapi tantangan kehidupan modern yang sarat interaksi sosial dan budaya lintas batas.
Dinamika Diskusi dan Penguatan Materi
Dialog interaktif antara pemateri dan peserta menjadi warna tersendiri dalam acara kali ini. Beberapa mahasiswa menyampaikan pertanyaan kritis yang memperlihatkan tingginya partisipasi intelektual mereka. Suasana diskusi berjalan hangat, mendorong peserta untuk lebih memahami adab sebagai nilai fundamental yang lebih dalam daripada sekadar etika formal.
Revansyah Rafi sebagai pmateri juga menyampaikan kesan terhadap pemabahasan ini, “Menurut saya, adab jauh lebih penting daripada sekadar ilmu. Dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa seorang Muslim tidak boleh mencaci atau merendahkan orang lain. Hal ini juga ditegaskan dalam Surah Al-Hujurat ayat 11–12 yang mengingatkan tentang pentingnya menjaga adab, tidak mengolok-olok, dan saling menghormati sesama.”
Menjelang penutupan, Ustaz Beryl menguraikan distingsi antara akhlak dan adab, disertai perspektif filosofis dan kultural. Menurutnya, adab dalam tradisi Timur mencerminkan internalisasi nilai spiritual yang diwujudkan dalam perilaku lahiriah penuh kehalusan. Penjelasan ini memperkaya pemahaman mahasiswa sekaligus memperluas cakrawala kajian Qur’ani dari sudut pandang antropologis dan peradaban.
Harapan dan Konsistensi Fahmil Qur’an
Kegiatan Fahmil Qur’an edisi ini berlangsung tertib, bermakna, dan sarat refleksi. Melalui agenda rutin ini, STIQSI Lamongan konsisten menjaga tradisi intelektual yang Qur’ani, membentuk mahasiswa yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga santun, beradab, dan siap menjadi teladan dalam masyarakat.
Dengan keberlangsungan kegiatan semacam ini, diharapkan mahasiswa semakin memahami makna adab sebagai fondasi kehidupan Islami. Lebih jauh lagi, Fahmil Qur’an akan terus menjadi motor penggerak tradisi akademik yang tidak hanya mengedepankan intelektualitas, tetapi juga menguatkan spiritualitas dan moralitas.
Reporter: M. Rafsanjani
Editor: Ananda Maulana Tegar Renaldi