Artikel

Qirā’ah al-Kutub STIQSI: Menyembuhkan Penyakit Hati dengan Hakikat Ibadah


Usai lantunan dzikir bersama yang memenuhi ruang perkuliahan dengan suasana tenang dan penuh kekhusyukan, mahasiswa STIQSI Lamongan melanjutkan malamnya dengan kegiatan Qirā’ah al-Kutub pada Selasa, 2 September 2025.

Tradisi ini kembali digelar oleh Departemen Pengembangan Bahasa dan Kebudayaan sebagai ikhtiar memperkuat atmosfer akademik sekaligus menumbuhkan semangat mendalami khazanah tafsir Al-Qur’an.

Penyakit Hati: Syubhat dan Syahwat
Ilham Yusuf membuka pembahasan dengan menukil tafsir Taisir al-Karim ar-Rahman karya al-Sa‘di. Ia menyoroti firman Allah, “Di dalam hati mereka ada penyakit” (QS. Al-Baqarah: 10). Menurutnya, penyakit hati terbagi dua: syubhat, yang menimbulkan keraguan, kemunafikan, dan bid‘ah; serta syahwat, yang mendorong pada zina dan maksiat. Hati yang selamat, jelasnya, hanyalah hati yang dijaga Allah sehingga tetap kokoh dalam iman.

Pandangan ini sejalan dengan keterangan Ibn al-Qayyim dalam Ighāthat al-Lahfān, bahwa penyakit hati pada hakikatnya terbagi dua: syubhat dan syahwat. Penyakit syubhat menjadikan hati buta dari kebenaran dan condong pada keraguan, sementara penyakit syahwat menyeret manusia pada kecenderungan buruk yang menjerumuskan pada maksiat.

Keduanya, menurut beliau, lebih berbahaya daripada penyakit jasmani karena dapat memutus hubungan seorang hamba dengan Tuhannya. Oleh sebab itu, penjagaan hati melalui ilmu, dzikir, dan mujahadah nafsu merupakan kunci utama untuk memperoleh keselamatan di dunia dan akhirat.

Hakikat Ibadah: Penghambaan Total dan Larangan Syirik
Sebaliknya, Vilzah Amirah melalui tafsir al-Mīzān menekankan sisi penyembuhan hati: yakni ibadah. Ia menjelaskan bahwa “ibadah adalah bentuk penghambaan total seorang hamba kepada Rabb-nya. Lawan dari ibadah adalah kesombongan, yang membawa pada syirik.” Allah menegaskan dalam QS. Ghafir: 60 bahwa siapa pun yang menyombongkan diri dari beribadah akan dimasukkan ke neraka dalam keadaan hina.

Dalam konteks hakikat ibadah, Ibn Taymiyyah dalam al-‘Ubudiyyah menjelaskan bahwa ibadah mencakup segala bentuk ketaatan lahir dan batin, berupa ucapan maupun perbuatan, yang dicintai dan diridhai Allah. Ia menegaskan: “ibadah adalah istilah yang mencakup segala sesuatu yang dicintai dan diridhai Allah, baik berupa ucapan maupun perbuatan, yang lahir maupun batin.”

Dengan demikian, hakikat ibadah tidak sekadar ritual, melainkan wujud penghambaan total seorang hamba kepada Rabb-nya. Oleh karena itu, lawan dari ibadah sejati adalah kesombongan dan syirik.

Sebagai penutup, Qirā’ah al-Kutub kali ini bukan hanya menghadirkan kajian tafsir, tetapi juga menghadirkan renungan mendalam: hati manusia bisa sakit oleh syubhat dan syahwat, namun obatnya adalah ibadah yang tulus. Pesan ini diharapkan dapat terus menginspirasi mahasiswa STIQSI untuk menjaga hati sekaligus memperkuat penghambaan kepada Allah, sehingga ilmu yang dipelajari benar-benar membentuk pribadi yang utuh dan bermanfaat.

Reporter: Nor Sabilah

Editor: Nur Islamiyah

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp
Rated 4.6 out of 5

Leave a Comment

Artikel Terbaru