Ngangsu Kaweruh di Hidayatul Qur’an Jombang

10.45 rombongan tim kkl stiqsi tiba di destinasi pertama yaitu ponpes hidayatul quran peterongan Jombang. Dalam acara tersebut ust Piet selaku pemimpin STIQSI memberikan sambutan yang pertama. Dalam sambutannya ust Piet menyampaikan ucapan terimakasih banyak kepada Gus Awis telah bersedia menerima rombongan dan dilanjutkan dengan memperkenalkan jajaran-jajaran pengurus STIQSI. Hadirnya rombongan kkl stiqsi adalah untuk ngangsu kaweruh dari gus awis dan mendapatkan manfaat serta barakah ilmu.

Dalam kesempatan ngangsu kaweruh tersebut, Gus Awis menjelaskan tentang bagaimana cara kita sebagai manusia berinteraksi dengan al-Qur’an, khoirukum man taallama al quran, dan seorang pembelajar al quran derajatnya lebih tinggi dari pengajar. Oleh karena itu orang yang mengaku cinta kepada al-quran tidak boleh berhenti mempelajarinya.

Interaksi yang pertama adalah tilawah al qur’an. Tilawah al-Qur’an adalah membaca al quran secara keras hingga terdengar. Membaca al quran adalah interaksi awal seorang dengan al quran. Percuma belajar tafsir al quran tapi tidak membacanya karena lewat membaca al-Qur’an lah ilmu ilmu itu turun kepada hambanya

Interaksi kedua adalah tabyin al ayat. Lewat penafsirannya dan dalam hal ini perlu ilmu ilmu al quran. Lamtas apa tujuan menjelaskan ayat2 al quran? Adalah pertama-tama agar kita bertaqwa. Dalam menafsirkan jamganlah takut untuk sama dalam berpendapat karena kesalahan pemahaman al quran sangat beresiko

Interaksi ketiga adalah tanjilul quran alal waqi’ yaitu memgaplikasikan al quran dalam kehidupan yang harus diawali dengan merasukkannya kepada hati. Karena ketika hati telah terisi dengan al quran maka akan mudah diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Proses turunnya al quran sebenarnya tiga kali, yang terakhir adalah tirinnya al quran kepada hati seorang mukmin

Yang keempat adalah tadabbur al quran yang harus dengan hari. Hati punya kapasitas rasional

Untuk merenungkan al quran epistemologinya qalbun yang diderivasi menjadi sam’un basorun dan fuadun. Dari sam’un kita bisa merenungkan al quran bisa lewat citra al quran. Dalam alquran ada ayat itstsaqoltum yang berat secara lafadz karena maknanya seberat orang munafiq meninggalkan kota untuk berperang bersama rasul

Allah menitipkan ilmu kepada siapapun yang mencintai alquran dan mempelajarinya

Tips agar kita memperoleh ilmu dari Allah adalah yang pertama harus senantiasa bersyukur, menghindari rasa sombong

Dalam kesempatan ngangsuh kaweruh ini mahasiswa peserta KKL tidak melewatkan kesempatan untuk terus menambah wawasannya dengan mengajukan beberapa pertanyaan. Mahasiswa pertama yang bertanya adalah Eva Naria yang bertanya tentang bagaimana ada seorang yg tidak bisa melihat dan tidak bisa mendengar bisa mentadaburi al quran?

Menurut Gus Awis, orang yang termasuk golongan tersebut maka tidak dibebankan atasnya tadabbur karena alat utama seseorang untuk bertadabbur kurang berkapasitas.

Pertanyaan kedua diajukan oleh Syauqi Salkhi tentang faidah penyebutan yaayyuhaladzo kafaru sekali dan apakah berbeda dengan yang didahului kata qul?

Menurut gus Awis, Qul sifatnya seruan kepada nabi untuk berbicara kepada objek tertentu. Bedanya alladzi kafaru dan al kafirun. Kalau isim fail berarti berlaku secara terus menerus maka al kafirun dia akan tetap kafir akan tetapi alladzi kafaru berarti orang2 tersebut pada saat itu kafir dan mungkin saja bisa beriman