Kajian Pagi al-Asma’ al-Husna Al-Malik, Oleh Ketua STIQSI Lamongan

Sudah menjadi program yang terjadwal untuk mahasiswa STIQSI Lamongan mengikuti kajian atau kuliah pagi, yang dilaksanakan setelah sholat shubuh. Tak terkecuali bagi mahasiswa baru.

Bagi mahasiswa baru, ini merupakan kegiatan baru yang belum pernah mereka rasakan di bangku sekolah menengah atas. Di antara kajian pagi bagi mahasiswa baru adalah kajian al-Asma’ al-Husna yang dilaksanakan setiap hari Sabtu, diampu langsung oleh Ketua STIQSI, Dr. Piet Hizbullah Khaidir.

Dua Kata Kunci Memahami Makna Al-Malik
Hari Sabtu (19/08/23) pembahasan dalam kajian al-Asma’ al-Husna adalah Makna Nama Allah: Al-Malik.

Ustadz Piet Hizbullah Khaidir menjelaskan bahwa al-Malik disebutkan dalam al-Quran sebanyak 3 kali, yang perinciaannya terdapat pada Surah Al-Hasyr ayat 23, Alfatihah ayat 3, dan al-Nas ayat 2.

Ada dua kata kunci untuk memahami Nama Allah al-Malik ini. Pertama, terkait dengan kekuasaan-Nya yang absolut sebagai Raja Diraja alam semesta dan seluruh isinya. Maka, sebagaimana dalam Surah Al-Hasyr ayat 23, Nama Al-Malik berkaitan dengan tauhid. “Dalam memahami Nama Allah al-Malik, dalam diri manusia harus ada keyakinan tak ada Yang Maha Kuasa selain Allah Swt. Kekuasaan-Nya absolut meliputi semua hal, Keputusan-Nya mutlak tak bisa diganggu gugat, Kehendak-Nya mutlak tak bisa ditawar. Semuanya harus tunduk dalam Kekuasaan takdir dan kehendak-Nya”, ungkap Doktor Bidang Tafsir dari UIN Sunan Ampel Surabaya ini.

Namun, menurut Ustadz Piet, memahami Nama Allah al-Malik tidak bisa berdiri sendiri dalam pemahaman atas Nama al-Malik saja. Oleh karena itu, memahami Nama Allah al-Malik, terkait juga dengan satu kesatuan makna Nama-Nama Allah yang lainnya.

“Nama Allah yang bergandeng dengan al-Malik dalam Surah al-Hasyr 23, yaitu: Lafaz al-Jalalah Allah, al-Quddus, al-Salam, al-Mukmin, al-Muhaimin, al-‘Aziz, al-Jabbar, dan al-Mutakabbir. Hal ini menegaskan bahwa di dalam ayat tersebut Kekuasaan Allah adalah Suci, yang bertujuan untuk memberikan rasa damai, keamanan, perlindungan, kemuliaan, memaksa terhadap wujudnya kebaikan, dan sombong terhadap keingkaran. Namun, Allah tak butuh makhluk-Nya untuk pengakuan itu semua. Karena Allah Maha Suci dari campur tangan makhluk-Nya,” tutur alumni MAPK Jember ini.

Selanjutnya Ketua STIQSI Lamongan itu mengajak mahasiswa semester I di kelas yang diampunya untuk memahami poin kedua dari Nama Allah al-Malik. Menurutnya, kekuasaan Allah pada makna Nama Allah al-Malik poin kedua secara khusus terkait dengan manusia, yang tergambar dalam Surah al-Fatihah ayat 3 dan al-Nas ayat 2.

“Pada Surah al-Fatihah ayat 3 kita diminta berefleksi tentang suatu hari yang penting. Hari yang tiada kekuasaan kecuali kekuasaan Allah. Itulah hari pembalasan, hari akhir. Tiada perlindungan pada hari itu kecuali perlindungan Allah. Oleh karena itu, manusia harus memperhatikan hari tersebut dengan baik. Karena hari itu adalah masa depannya”, ungkap Alumni UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini.

Dua Masa Depan
Masa depan (mustaqbal) pada manusia itu ada dua macam, yaitu: Keluarga dan Hari Akhir. Dua-duanya saling menentukan. Keduanya harus dipersiapkan dengan baik.

Lebih mendalam Ustadz Piet menjelaskan bahwa inti masa depan yang pertama adalah orang tua. Sebagai inti masa depan pertama, keluarga harus diperhatikan dengan baik. Perhatian terhadap orang tua kita, dengan menghormatinya, membuatnya bangga dengan keberhasilan kita, tidak berkata kasar kepadanya, adalah titian menuju masa depan yang kedua, yaitu akhirat. “Oleh karena itu, kita tidak boleh durhaka terhadap kedua orang tua kita. Karena termasuk dosa besar. Maka selalulah berusaha untuk berbakti kepada mereka, dengan mendoakan serta mewujudkan cita-cita dan harapannya”, ungkapnya.

Dalam Islam, menurut Sekretaris PDM Lamongan ini, orang tua yang wajib ditaati itu ada dua, yaitu: kedua orang tua yang melahirkan dan guru-guru yang telah mengajarkan ilmu pengetahuan. “Terhadap keduanya, jangan pernah kita durhaka. Selalulah minta do’a dan nasehatnya. Selalulah menghormatinya,” tegas alumni the University of Leeds, England ini.

Tiga Konsep Manusia dan Masa Depannya
Selanjutnya, untuk meraih masa depan yang baik Surah al-Fatihah memberikan panduan bahwa manusia sudah seharusnya senantiasa memohon dibimbing oleh Allah menuju masa depan yang baik, dengan terus fokus mempersiapkan bekal amal shaleh.

Berkaitan dengan poin kedua di atas, Nama al-Malik sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Nas ayat 2 perlu dipahami dari konsep manusia dalam al-Qur’an. Ustadz Piet menjelaskan bahwa konsep manusia dalam al-Qur’an dapat dipahami dari tiga makna kata terkait, yaitu: al-insan, al-uns, dan al-ins.

Pertama, konsep al-insan. Manusia merupakan makhluk yang selalu bergerak dalam aktifitas yang bermanfaat. Lumrah dalam aktifitas dan gerakannya dia lupa. Tetapi, yang tidak boleh dilakukannya adalah melupakan Tuhan. Karena jika melupakan Tuhan, dia pasti akan terpuruk dalam kesesatan, tanpa mendapatkan perlindungan sedikitpun dari-Nya.

Konsep kedua, manusia disebut sebagai al-Uns, yakni makhluk yang memiliki ego. Ego ada lima, dua negatif dan tiga positif. Yang negatif: ego yang selalu mengajak kepada keburukan (ammarah bi al-su’), dan ego yang selalu menyepelekan, lalai dan teledor (lawwamah). Dua ego buruk ini harus dihindari. “Manusia harus selalu memohon perlindungan Kuasa Allah agar terhindar dari keduanya,” ungkap Ketua STIQSI Lamongan ini.

Selanjutnya, Ustadz Piet menerangkan tiga ego yang positif, yaitu: Muthmainnah, Radhiyah, dan Musawwalah. Ego Muthmainnah merupakan nafsu yang tenang, karakter dan moodnya selalu terjaga.

Ego ini adalah ego yang terlatih dalam menghadapi kesedihan dan ujian cobaan dengan selalu belajar serta mengambil kebaikan darinya. Sementara itu, Ego Radhiyah berasal dari kata ridha yakni rela. Ego yang selalu rela menerima apapun yang telah diberikan oleh Allah kepadanya. Sedangkan Ego Musawwalah adalah ego yang selalu dibimbing Allah dalam kebaikan.

Konsep manusia yang ketiga adalah al-Ins. Manusia adalah makhluk yang telah dipersiapkan oleh Allah dengan kapasitas keilmuan. “Kapasitas manusia yang baik akan melahirkan kualitas yang semakin baik. Sedangkan untuk mewujudkan kualitas manusia semakin baik, diperlukan pelatihan dan pembiasaan yang baik untuk tumbuhnya wawasan yang luas dan ilmu pengetahuan yang mumpuni serta uswah hasanah yang selalu diamalkan,” papar Ustadz Piet.

Reporter : Avant
Editor : Julya Nur I.
Proofreader : phzdr